Kamis, 16 Juli 2009

MAHAPATI

MAHAPATI /RAKYAN PATIH DYAH HALAYUDHA


Mahapati adalah tokoh penghasut dalam sejarah awal Majapahit. Namanya disebut dalam Pararaton sebagai pemegang jabatan Rakryan Patih setelah kematian Nambi tahun 1316. Mahapati dalam naskah Pararaton dan Kidung Sorandaka, dikisahkan sebagai tokoh licik yang gemar melancarkan fitnah dan adu domba demi ambisinya, yaitu menjadi Patih Majapahit. Pada tahun 1295 Mahapati menghasut Ranggalawe supaya menentang pengangkatan Nambi sebagai patih. Sebaliknya, ia juga menghasut Nambi supaya menghukum kelancangan Ranggalawe . Perang saudara pertama pun meletus. Ranggalawe tewas di sungai Tambak-beras.

Pada tahun 1300 Mahapati menghasut Mahisa Taruna (Putra Kebo Anabrang) supaya menuntut pengadilan untuk Lembu Sora, yang telah membunuh Kebo Anabrang dari belakang saat penumpasan pemberontakan Ranggalawe . Mengingat jasa-jasanya, Lembu Sora dihukum buang oleh Raden Wijaya raja Majapahit saat itu. Mahapati ganti menghasut Lembu Sora supaya meminta hukuman yang lebih pantas. Lembu Sora pun berangkat ke ibu kota. Di sana ia tewas dikeroyok tentara istana, karena Nambi sudah lebih dahulu dihasut Mahapati, bahwa Lembu Sora akan datang untuk membuat kekacauan.

Pada tahun 1316 Mahapati mengadu domba Nambi dengan Jayanagara , raja Majapahit saat itu. Ia menyarankan supaya Nambi memperpanjang untuk tinggal di Lumajang karena kematian ayahnya, yang bernama Pranaraja. Sebaliknya, Mahapati juga menghasut Jayanagara , bahwa Nambi tidak mau kembali ke Majapahit karena sedang mempersiapkan pemberontakan.

Jayanagara pun mengirim pasukan untuk menghancurkan Lumajang. Dalam kidung Sorandaka sangat jelas dinyatakan bahwa Mahapati memegang siasat perang melawan Nambi dan Arya Wiraraja. Penyerbuan pertahanan Pejarakan, Nganding dan Lumajang berhasil dengan baik, lagi pula sebelumnya ia sudah menjadi orang kepercayaan raja sehingga sejak Nambi meninggalkan Majapahit, Mahapati memegang peranan penting dalam pemerintahan Majapahit. Seperti dinyatakan dalam Kidung Sorandaka bahwa Mahapati berusaha dengan berbagai cara untuk dapat menduduki posisi sebagai Patih Majapahit. Setelah kematian Nambi Prabu Jayanagara kemudian mengangkat Mahapati sebagai patih Majapahit sesuai cita-citanya.

Pada tahun 1319 terjadi pemberontakan Ra Kuti. Pemberontakan ini ditumpas oleh Gajah Mada yang kemudian menjadi abdi kesayangan Jayanagara . Setelah pemberontakan itu, hubungan Jayanagara dengan Mahapati mulai renggang.

Akhirnya semua kejahatan Mahapati pun terbongkar. Mahapati kemudian dihukum mati dengan cara cineleng-celeng, artinya dicincang seperti babi hutan.

Tokoh Mahapati hanya terdapat dalam Pararaton dan Kidung Sorandaka. Maha artinya besar, pati artinya penguasa. Maksudnya, ialah orang yang memiliki ambisi besar untuk menjadi penguasa. Sehingga dapat diperkirakan, nama Mahapati bukanlah nama asli, melainkan nama julukan. Tokoh Mahapati menjadi patih setelah tahun 1316. Oleh Slamet Muljana dalam bukunya, Menuju Puncak Kemegahan (1965), Mahapati disamakan dengan Rakryan Patih Dyah Halayudha, yang namanya tercatat dalam Prasasti Sidateka tahun 1323.

Ditinjau dari nama depan Halayuda jelas kalau ia masih golongan bangsawan, karena gelar dyah pada zaman itu sama artinya dengan raden pada zaman selanjutnya. Misalnya, Nagarakretagama yang ditulis pada abad ke-14 menyebut nama pendiri Majapahit adalah Dyah Wijaya, sedangkan dalam Pararaton yang dikarang sekitar abad ke-16, namanya sudah berubah menjadi Raden Wijaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar